Minggu, 11 Januari 2015
Pemimpin itu di " Tengah " bukan di " Atas "
In The Name of Allah The Most Gracious The Most Merciful
Menjadi pemimpin itu hendaknya tidak memposisikan dirinya diatas. Hendaknya seorang pemimpin itu berada di -tengah-tengah- membersamai yang dipimpinnya.
Kalo dia diatas, dia hanya akan tau urusan dari permukaannya saja -dari superfisialnya saja-. Sedangkan setiap yg dipimpin itu bergelut dengan segala kerumitan tugasnya yg sering kali tidak terlihat, apalagi kalo cuma dipandang dari atas. Orang yg diatas hanya melihat "Ooo... acaranya sudah selese berarti urusannya sudah fix -kelar- selesai". Padahal belum tentu. Barangkali yang dipimpinnya itu sedang berada dalam kendala dan kendala itu hanya akan terlihat dan terselesaikan apabila seorang pemimpin mau berdiskusi mencari solusi dan akar permasalahannya. Dan itu hanya bisa dilakukan apabila seorang pemimpin berada di -tengah.
Pertanyaannya, bagaimana seorang pemimpin bisa tau kalo dia membutuhkan waktu untuk berdiskusi sedangkan dia saja berada di atas?
Maka dari itu, siapun kita, ketika menjadi seorang pemimpin, marilah kita memposisikan diri ditempat yang tepat -ditengah-tengah, -membersamai-, bukan diatas -melihat hanya yg terlihat saja-.
Sabtu, 10 Januari 2015
Tidak Bisa.
With The Name of Allah The Most Gracious The Most Merciful
Aku tidak bisa menaruh hati kepada orang yang -mencoba sedikit mendekati- tetapi disaat yang hampir bersamaan dia juga menawarkan hatinya untuk orang lain.
Aku tidak bisa menaruh hati kepada orang yang -mencoba sedikit mendekati- tetapi disaat yang hampir bersamaan dia juga menawarkan hatinya untuk orang lain.
Mengendalikan Diri
With The Name of Allah The Most Gracious The Most Merciful
Jika Anda belum mampu melangkah ke jenjang pernikahan, jangan sampai ucapan dan tindakan Anda memberikan pengharapan kepada wanita mengenai hubungan hati dengannya.
Jika Anda belum mampu melangkah ke jenjang pernikahan, jangan sampai ucapan dan tindakan Anda memberikan pengharapan kepada wanita mengenai hubungan hati dengannya.
Kamis, 08 Januari 2015
" Manisnya Kejutan " dibalik Pahitnya Kejadian
With The Name of Allah The Most Gracious The Most Merciful
8 Januari 2015
Alhamdulillah. Ada baiknya untuk bersyukur terlebih dahulu atas apapun yang terjadi. Entah hari ini ataupun hari-hari di masa lalu.
Jadi, siang hari tadi saya dikasih kejutan sama Allah. Ceritanya, saya kena remed neuro. Otomatis harus ikut ujian remed biar bisa lulus dan terpampang nilai B di KHS. Tapi segala sesuatu memang berada diluar kehendak manusia tapi berada kokoh dibawah pengaturanNya. Termasuk kejutan yang saya peroleh kali ini. Pengumuman mengatakan remed UB neuro dilaksanakan hari ini jam 10.00-11.40. Dan saya mengira remed UB jam 13.00. Sedangkan saya menginjakkan kaki di kampus sekitar jam 11.40. Qadarallah… Saya kena SP (baca: semester pendek).
Jleb iya. Gak enak iya. Nyesel iya. Tapi ga ada sesuatu yg luput dari kehendak Allah bukan?
Yasudah. Yang sudah lalu biar berlalu… Tinggal petik sebanyak-banyaknya ibroh dibalik segala macam bentuk kejadian mengenakkan maupun tidak mengenakkan.
Lewat kejadian itu tadi, saya sedikit disentil Allah, disentil untuk lebih -berhati-hati -cermat -teliti dalam memerhatikan segala informasi, informasi dalam bentuk apapun.
Kedua, dengan adanya SP, secara otomatis sedikit banyak jatah liburan saya akan “terampas”. Beberapa rencana pasti akan berubah. Beberapa targetan juga akan berubah. Tapi satu hal yang saya yakini, dengan kejadian ini semua, Allah pasti menyelipkan segala kebaikan yang jauh lebih baik dari rencana maupun targetan saya sebelumnya. Atau Allah memang sedang memuluskan “targetan saya” agar lebih mudah tercapai melalui perantara SP ini.
Dengan adanya SP, boleh jadi saya diberi lagi kesempatan untuk mendalami ilmu yang dulu sudah pernah di dapat. Dengan adanya SP, boleh jadi saya bisa menguasai ilmu -yang dulunya belum saya tau menjadi tau-, -yang dulunya belum paham menjadi lebih paham-. Dengan tidak adanya SP, barangkali saya akan terlena dalam panjangnya liburan. Dengan tidak adanya SP, barangkali saya akan bermalas-malasan selama liburan. Begitulah, Allah Maha Hebat dalam membungkus segala “pembelajaran” dalam kemasan yang mungkin sedikit “menyakitkan”. Boleh jadi, Allah senang melihat hambaNya berbaik sangka kepadaNya. Boleh jadi Allah senang melihat hambaNya belajar untuk menggali ilmu dari setiap pengalaman yang dilaluinya. Begitulah satu dari sekian banyak cara Allah dalam mendidik, mengejutkan dan menyayangi hamba-hambaNya.
Semoga apapun yang saya alami di dunia ini bisa menjadi kado terindah bagi saya untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi kedepannya. Menjadi kesempatan bagi saya untuk mengenalNya lebih dekat lagi, mencintaiNya lebih dalam lagi dan belajar untuk mewarisi setetes demi setetes sifat Rahman dan RahimNya. Aamiin :’)
Langganan:
Postingan (Atom)