Sabtu, 27 Juli 2013

Mendesign Masa Depan




Kalian mungkin memiliki masa lalu yang buruk, tapi kalian memiliki kepal tangan untuk mengubahnya. Kepal tangan yang akan menentukan sendiri nasib kalian hari ini, kepal tangan yang akan melukis sendiri masa depan kalian.”




-Tere Liye-

Halte Sebentar




dua tiga kali sudah kukatakan,

tidak akan lama, sebentar saja,

kendaraan pasti akan berjalan lagi,

tak bolehlah terlalu lama kau berleha meluruskan kaki,

merentangkan tangan, lantas berseru amboi nikmatnya,

ini hanya halte sebentar, atau sejenis rest area saja

jangan tertipu dengan kerlip lampunya,

apalagi dengan penjaja makanan dan minuman,

pedagang souvenir, foto-foto, update status, tidak perlu

maju, maju, maju,

bus di belakang sudah mendekat,

bus di depan sudah hilang di kelokan depan,

semua bergerak maju, mendesak atau terdesak,

tidak usah mengisi perut penuh-penuh,

tidak usah membawa bekal dunia berlimpah,

tidak perlu belerbihan dalam segala urusan,

ini hanya halte sebentar,

kita semua pasti dan sedang menuju mudik yg lebih hakiki,

pulang pada Pemberi Kehidupan,

dan sungguh tidak ada lagi tiket pulang-pergi

-Tere Liye-



Kamis, 25 Juli 2013

Kesan Pertama





" Piye perasaanmu ketompo nang kene? "


" Aku wedi dadi wong sombong "



Sabtu, 20 Juli 2013

Ingat Mati



Kehidupan seseorang di dunia ini dimulai dengan dilahirkannya seseorang dari rahim ibunya. Kemudian setelah ia hidup beberapa lama, iapun akan menemui sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindari, kenyataan sebuah kematian yang akan menjemputnya.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
“Tiap-tiap jiwa akan merasakan kematian dan sesungguhnya pada hari kiamatlah akan disempurnakan pahalamu, barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung dan kehidupan dunia hanyalah kehidupan yang memperdayakan”. (Ali-Imran: 185)
Ayat di atas adalah merupakan ayat yang agung yang apabila dibaca mata menjadi berkaca-kaca. Apabila didengar oleh hati maka ia menjadi gemetar. Dan apabila didengar oleh seseorang yang lalai maka akan membuat ia ingat bahwa dirinya pasti akan menemui kematian.
Memang perjalanan menuju akhirat merupakan suatu perjalanan yang panjang. Suatu perjalanan yang banyak aral dan cobaan, yang dalam menempuhnya kita memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit. Yaitu suatu perjalanan yang menentukan apakah kita termasuk penduduk surga atau neraka. Perjalanan itu adalah kematian yang akan menjemput kita, yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan kita dengan alam akhirat. Karena keagungan perjalanan ini, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
“Andai saja engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan sedikit tertawa dan banyak menangis”. (Mutafaq ‘Alaih)
Maksudnya apabila kita tahu hakekat kematian dan keadaan alam akhirat serta kejadian-kejadian di dalamnya niscaya kita akan ingat bahwa setelah kehidupan ini akan ada kehidupan lain yang lebih abadi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”(Al-A’la: 17).
Akan tetapi kadang kita lupa akan perjalanan itu dan lebih memilih kehidupan dunia yang tidak ada nilainya di sisi Allah. Marilah kita siapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menyempurnakan perjalanan itu, yaitu dengan melakukan ketaatan-ketaatan kepada Allah. Dan marilah kita perbanyak taubat dari segala dosa-dosa yang telah kita lakukan.
Seorang penyair berkata:
Lakukanlah bagimu taubat yang penuh pengharapan. Sebelum kematian dan sebelum dikuncinya lisan. Cepatlah bertaubat sebelum jiwa ditutup. Taubat itu sempurna bagi pelaku kebajikan.
Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (At-Tahrim: 8)
Ingatlah wahai saudaraku.
Di kala kita merasakan pedihnya kematian maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai makhluk yang paling dicintai oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala telah bersabda:
“Tiada sesembahan yang haq melainkan Allah, sesungguhnya di dalam kematian terdapat rasa sakit.” (H.R. Bukhari)
Ingatlah di kala nyawa kita dicabut oleh malaikat maut. Nafas kita tersengal, mulut kita dikunci, anggota badan kita lemah, pintu taubat telah tertutup bagi kita. Di sekitar kita terdengar tangisan dan rintihan handai taulan yang kita tinggalkan. Pada saat itu tidak ada yang bisa menghindarkan kita dari sakaratul maut. Tiada daya dan usaha yang bisa menyelamatkan kita dari kematian. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.” (Qaaf: 19)
Allah Subhannahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu berada di benteng yang kuat.”(An-Nisaa’: 78)
Cukuplah kematian sebagai nasehat, cukuplah kematian menjadikan hati bersedih, cukuplah kematian menjadikan air mata berlinang. Perpisahan dengan saudara tercinta. Penghalang segala kenikmatan dan pemutus segala cita-cita.
Marilah kita tanyakan kepada diri kita sendiri, kapan kita akan mati? Di mana kita akan mati? Demi Allah, hanya Allah-lah yang mengetahui jawabannya, oleh karenanya marilah kita selalu bertaubat kepada Allah dan jangan kita menunda-nunda dengan kata nanti, nanti dan nanti.
Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejelekan lantaran kejahilannya, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima oleh Allah taubatnya, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejelekan (yang) hingga apabila datang kematian kepada seseorang di antara mereka, mereka berkata: Sesungguhnya aku bertaubat sekarang.” (An-Nisaa’: 17-18)
Marilah kita tanyakan kepada diri kita. Apa yang menjadikan diri kita terperdaya dengan kehidupan dunia, padahal kita tahu akan meninggalkannya. Perlu kita ingat bahwa harta dan kekayaan dunia yang kita miliki tidak akan bisa kita bawa untuk menemui Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya amal shalihlah yang akan kita bawa nanti di kala kita menemui Allah Subhannahu wa Ta’ala.
Marilah kita mencoba merenungi sisa-sisa umur kita, muhasabah pada diri kita masing-masing. Tentang masa muda kita, untuk apa kita pergunakan. Apakah untuk melaksanakan taat kepada Allah ataukah hanya bermain-main saja? Tentang harta kita, dari mana kita peroleh, halalkah ia atau haram? Dan untuk apa kita belanjakan, apakah untuk bersedekah ataukah hanya untuk berfoya-foya? Dan terus kita muhasabah terhadap diri kita dari hari-hari yang telah kita lalui. Perlu kita ingat, umur kita semakin berkurang. Kematian pasti akan menjemput kita. Dosa terus bertambah. Lakukanlah taubat sebelum ajal menjemput kita. Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi.

SumberBuletin Izzuddin Edisi Keenam 




Rabu, 17 Juli 2013

Bersyukur (:



"Siji sik perlu kok tindakke ben Gusti Allah ora gelo menehi nikmat nang awakmu, syukurono opo sing ono."


Minggu, 07 Juli 2013

Ikhlas


Kalo ikhlas itu mudah, tak kan pernah ada air mata kesedihan yang meluap-luap
Kalo ikhlas itu mudah, seluruh air mata bisa diseka habis dalam hitungan detik
Kalo ikhlas itu mudah, tak kan pernah ada hati yang meronta-ronta penuh penyesalan
Kalo ikhlas itu mudah, tak kan pernah ada hati yang berlarut-larut rontok dalam kesedihan
Kalo ikhlas itu mudah, tak kan pernah ada kekecewaan yang berkelanjutan
Kalo ikhlas itu mudah, semua hati bisa sembuh sekejap walau tersayat luka sedalam apapun

Sayangnya, ikhlas itu tidak mudah. Dia mempunyai ilmu yang hanya bisa dikuasai oleh hati yang lapang, hati yang penuh penerimaan, hati yang rela melepaskan selepas-lepasnya. Ilmu ikhlas gak bisa dikuasai dalam hitungan detik, menit, ataupun dalam hitungan jam. Ikhlas itu butuh berhari-hari, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk bisa dikuasai. Selama itu kah? Iya. Ikhlas itu ibarat seorang anak yang tengah memecahkan sebuah vas bunga, kemudian dia berjuang sekuat tenaga untuk melekatkan kembali serpihan vas yang terpisah satu sama lain. Bedanya dengan ikhlas, yang harus dilekatkan disini –adalah- serpihan hati yang berserakan. Kalopun toh iya serpihan hati itu sudah berlekatan satu sama lain, dia tetap tidak akan tampak sesempurna seperti sedia kala.

Ikhlas, biarlah waktu yang menjadi obat, biarlah waktu yang menutup segala kesedihan, biarlah waktu yang menjadi penenang, biarlah waktu yang mengubah kesedihan menjadi kebersyukuran, biarlah waktu yang mengantar kita pada pemahaman yang lebih baik lagi :’)