Minggu, 07 Juli 2013

Ikhlas


Kalo ikhlas itu mudah, tak kan pernah ada air mata kesedihan yang meluap-luap
Kalo ikhlas itu mudah, seluruh air mata bisa diseka habis dalam hitungan detik
Kalo ikhlas itu mudah, tak kan pernah ada hati yang meronta-ronta penuh penyesalan
Kalo ikhlas itu mudah, tak kan pernah ada hati yang berlarut-larut rontok dalam kesedihan
Kalo ikhlas itu mudah, tak kan pernah ada kekecewaan yang berkelanjutan
Kalo ikhlas itu mudah, semua hati bisa sembuh sekejap walau tersayat luka sedalam apapun

Sayangnya, ikhlas itu tidak mudah. Dia mempunyai ilmu yang hanya bisa dikuasai oleh hati yang lapang, hati yang penuh penerimaan, hati yang rela melepaskan selepas-lepasnya. Ilmu ikhlas gak bisa dikuasai dalam hitungan detik, menit, ataupun dalam hitungan jam. Ikhlas itu butuh berhari-hari, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk bisa dikuasai. Selama itu kah? Iya. Ikhlas itu ibarat seorang anak yang tengah memecahkan sebuah vas bunga, kemudian dia berjuang sekuat tenaga untuk melekatkan kembali serpihan vas yang terpisah satu sama lain. Bedanya dengan ikhlas, yang harus dilekatkan disini –adalah- serpihan hati yang berserakan. Kalopun toh iya serpihan hati itu sudah berlekatan satu sama lain, dia tetap tidak akan tampak sesempurna seperti sedia kala.

Ikhlas, biarlah waktu yang menjadi obat, biarlah waktu yang menutup segala kesedihan, biarlah waktu yang menjadi penenang, biarlah waktu yang mengubah kesedihan menjadi kebersyukuran, biarlah waktu yang mengantar kita pada pemahaman yang lebih baik lagi :’)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar