Kalo ikhlas itu mudah, tak kan pernah ada air mata kesedihan yang meluap-luap
Kalo ikhlas itu mudah, seluruh air mata bisa diseka habis
dalam hitungan detik
Kalo ikhlas itu mudah, tak kan pernah ada hati yang
meronta-ronta penuh penyesalan
Kalo ikhlas itu mudah, tak kan pernah ada hati yang
berlarut-larut rontok dalam kesedihan
Kalo ikhlas itu mudah, tak kan pernah ada kekecewaan yang
berkelanjutan
Kalo ikhlas itu mudah, semua hati bisa sembuh sekejap walau
tersayat luka sedalam apapun
Sayangnya,
ikhlas itu tidak mudah. Dia mempunyai ilmu yang hanya bisa dikuasai oleh hati
yang lapang, hati yang penuh penerimaan, hati yang rela melepaskan
selepas-lepasnya. Ilmu ikhlas gak bisa dikuasai dalam hitungan detik, menit,
ataupun dalam hitungan jam. Ikhlas itu butuh berhari-hari, berbulan-bulan atau
bahkan bertahun-tahun untuk bisa dikuasai. Selama itu kah? Iya. Ikhlas itu
ibarat seorang anak yang tengah memecahkan sebuah vas bunga, kemudian dia
berjuang sekuat tenaga untuk melekatkan kembali serpihan vas yang terpisah satu
sama lain. Bedanya dengan ikhlas, yang harus dilekatkan disini –adalah-
serpihan hati yang berserakan.
Kalopun toh iya serpihan hati itu sudah berlekatan satu sama lain, dia tetap
tidak akan tampak sesempurna seperti sedia kala.
Ikhlas,
biarlah waktu yang menjadi obat, biarlah waktu yang menutup segala kesedihan, biarlah
waktu yang menjadi penenang, biarlah waktu yang mengubah kesedihan menjadi
kebersyukuran, biarlah waktu yang mengantar kita pada pemahaman yang lebih baik
lagi :’)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar